Rabu, 30 Oktober 2013

Chapter 1

Dinginnya malam membaluti kulitku. Aku berjalan dengan langkah terseret-seret. Ingin segera sampai rumah namun beribu rasa takut menghantuiku. Semua perasaan ini menjadi satu. 
Aku terus melangkah hingga melewati taman dekat rumahku.
Tiba-tiba seseorang menampakkan dirinya dari balik pohon besar.
Hampir saja aku berteriak sebelum ku menyadari dia adalah Dika. Dika adalah satu-satunya temanku yang paling klop di kampus.
“Ngagetin ajah!”. Sebalku.
“Kok baru pulang!”. Tegurnya.
Aku berusaha menutupi sesuatu geretan luka dibibirku.
“Loe ngapain disini?”. 
“Nungguin loe lah!”. Tegasnya.
Tanpa permisi ia langsung menarik tanganku untuk mengikutinya, menapaki jalan yang baru saja kulewati.
“Gw mau pulang,Dik!”. Aku berusaha melepaskan genggaman ini.
“Mau semua orang tahu apa yang terjadi sebenarnya?”. Sergahnya. “Ya udah kalau itu mau kamu”. Ia melepaskan tanganku.
“Apa yang kamu tahu?”. Tanyaku penasaran.
Ia membalikkan badannya dan menatapku dalam-dalam.
“Tahu! Aku tahu semuanya”. Jelasnya.
Entah aku yang bloon atau dia yang kurang bias menjelaskan perkataannya, aku tak mengerti sama sekali maksudnya.
Melihat keningku berkerut, Dika jelas mengerti kalau aku kurang paham dengan yang ia maksud.
“Luka itu”. Ia menyentuh bibirku yang luka dengan jari-jarinya yang sudah sedingin es.
“Tadi jatuh”. Bohongku.
“Kenapa gak diobatin dari tadi kalau emang jatuh”. Ia menarik tanganku lagi mengikuti jalan setapak menuju jalan besar.
“Kurasa disini ada”. Ia menghentikan langkahku di depan minimart yang terdekat dari rumahku.
“Tunggu disini”. Perintahnya.
Taklama ia segera keluar.
“Duduk disitu”. Perintahnya lagi. Aku hanya menuruti perintahnya.
“sini!”. Ia mengoleskan salep ke bagian bibirku yang terluka.
“Kalau loe pengen gw bikin perhitungan ke dia ,bilang ajah”. 
“Aw!”. Rengekku.
“Sakit yah!”. 
“Pelan-pelan dong!”. Omelku.
Dika hanya tertawa melihatku mengomel.
“Ckckckck!!! Kasihan amat sih loe, Sas”.
“Seneng yah ngeliat temen susah”.
“Bukan begitu!”.
Ia mendekatkan wajahnya ke arahku. Lima sentimeter di depanku. Tiba-tiba saja tanganku menamparnya.
Ia hanya tersenyum memegang pipinya yang agak memerah.
“Gw mau pulang!”. Pamitku tanpa menoleh ke arahnya lagi. 
Ku berjalan penuh tenaga dengan langkah yang besar. Aku merasakan wajahku yang merah padam.
“Loe harus tetap mempertahankan itu,Sas!”. Teriaknya. “Prinsip loe!”.
“Akan jujur pada orang yang loe cinta”. Desisnya.
“Dan gw tahu loe selalu jujur sama gw”. Bisiknya dalam hati.


bersambung..-> Chapter 2
NB: terima keritikan yang membangun
NB: nama dan tokoh atau pun cerita hanya fiktif belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar