Rabu, 30 Oktober 2013

Chapter 2

“Sas!”, Panggil seseorang dibelakangku.
Aku menoleh dan melihat sosok lelaki tegap, gagah dan rupawan. Aku kenal benar siapa lelaki itu.
Segera ku percepat langkahku tanpa menghiraukannya.
Kakinya yang jenjang dapat menyusul langkahku.
Lelaki itu menarikku dengan paksa menuju kantin.
“Aku belum sarapan”. Jelasnya begitu aku duduk di sebelahnya.
“Kurasa kamu juga belum”. Tebaknya.
“Aku ada kelas”. Tegasku berusaha berdiri. 
Ia menarikku untuk duduk lagi.
“Masuknya kan jam 9,sayang”. Ungkapnya manja.
“Rio!”. Teriakku padanya.
“Aku tahu aku salah”. Rengeknya. “Aku minta maaf”.
“Aku berbuat itu, karena aku cemburu sama teman kamu itu”.
Entah apa yang ada dipikirannya sekarang, ia begitu manja denganku . Beda dengan hari-hari sebelumnya.
“Siapa? Dika?”. 
Ia mengangguk.
“Satuhal yang harus kamu tahu, aku sama dia cuma teman, titik”.
Wajahnya mulai ceria lagi, seperti anak kecil yang diberi permen kesukaannya.
Ia langsung memelukku. “Aku takut banget kehilangan kamu, Sas! Aku gak rela kamu pisah dari kamu. Aku akan lakuin apa aja asal bisa bersama kamu” Bisiknya ditelingaku.
Tiba-tiba saja tubuhku menjadi lemas mendengar perkataannya.
Ia begitu teguh dengan pendiriannya. Bagaimana aku bisa menghentikan kebohongan ini. Niatnya ingin memutuskannya segera, tapi malah jadi tidak enak hati padanya.
“Ini gara-gara aku yah?”. Ditunjukknya bibirku yang tergores.
Aku hanya mengangguk.
“Maaf!”. Ia menarik kedua tanganku dan mengecupnya.
“Aku benar-benar minta maaf. Aku gak akan melakukan yang kamu gak mau”. Ia memelukku lagi.
“Udah ah! Peluk-peluk melulu”. Aku melepaskan pelukannya.
“Katanya mau sarapan”. Ingatku.
“Hehe….”. 
“Mbak Minah! Nasi kuningnya dua yah”. Teriakku pada ibu di gerobak ujung yang menjadi langganan kami setelah jadian.
“Kayaknya ada yang mau traktir nih!”. Bisiknya dengan mesra padaku.
“Mmm… enak ajah! Kan kak Rio yang ngajakin”. 
Ia melingkarkan tangannya di pinggangku. “Aku pengen deh cepet-cepet lulus, trus nyari kerja, trus nikah deh sama kamu”.
Perutku seperti dipukul, apa yang ia katakan begitu diluar perhitunganku. 
Apa? Nikah! Oh No! itu bukan keinginanku. Jadian sama dia juga terpaksa, apalagi disuruh nikah. Arghh!! Kenapa kemarin aku menyetujui perintah senior-senior itu. Bagaimana ini?
Lamunanku kabur begitu langkah mbak Minah berhenti di meja kami.
“Ini pesenannya mbak dan mas, Nasi Kuning Rasa Cupit”. Terang mbak Minah sambil cekikikan sendiri.
“Emangnya tau cupit juga, mbak?”. Interogasiku.
“Kan diajarin sama si masnya”. Mbak Minah melirik ke arah Rio dengan centilnya.
“Haha!! Mbak Minah kesem-sem sama kak Rio yah”. Ungkapku geli. “Ambil aja mbak, saya udah bosen kok!”.
Wajah mbak Minah ceria banget begitu mendengar pernyataanku. Sambil senyum-senyum sendiri ia balik ke dapurnya.
“Bener kamu udah bosen sama aku, Sas!”. Rio menatapku penuh tanya.
“Apaan sih kak Rio?”. Aku menutupi wajahnya dengan kedua tanganku. “Jangan natap kayak gitu dong! Kan aku jadi malu”. Ungkapku manja.
Hwkk!!! Dalam hatiku ogah mengatakan itu, tapi mau gimana lagi dari pada dia terus-terusan memperpanjang masalah ini.
“Ihh!! Kamu lucu banget deh!!”. Ia memcubit pipiku.
“Sakit!”. Sebalku.
“Aduh! Calon istriku kesakitan yah”. Ia mengelus-ngelus pipiku.
Aku terdiam. Menyaring perkataannya. Apa dia benar-benar serius dengan ucapannya.
Ah! Paling cuma tong kosong. Cowok kan suka gitu, ngomongnya manis kenyataannya pahit.
Dari pada pusing-pusing mending makan aja. Nasi kuningnya bikin ngiler, apalagi sambelnya mbak Minah. Huenak tenan.
“Aku serius loh Sas, aku mau nikah sama kamu”. Rio memulai pembicaraanya lagi begitu memasukkan suapan terakhir ke mulutku. 
Spontan aku keselek. Dan berusaha segera mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasku.
Rio pun ikut panik.
“Aku gak pa-pa”. Ungkapku.
Ku minum lagi semua sisa isi botol mineral. 
“Kamu mau minum lagi, Sas!”. Rio menawarkan botol mineralnya yang masih penuh.
“Gak! Makasih! Kurasa aku harus ke kelas sekarang ,kak”. Pamitku.
“Aku anter!”. Mohonnya.
“Gak usah! Nanti aku diledekin anak TK ma temen-temen sekelas”.
“Oh! Ya sudah kalau begitu! Nanti kalau sudah mau pulang sms ayang yah!”. Pesannya penuh mesra.
Hwkkk!!! Ini orang gak ada matinya, bikin muak ajah.

NB: cerita ini hanya fiktif belaka.
NB: terima kritik dan saran yang membangun.
*terima kasih sudah membaca*

Artikel Terkait: Cerita Sebelumnya          Cerita Selanjutnya


Promo : mau Punya Penghasilan hanya Bermodal 49.900 dan media Online 
              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar