Selasa, 20 Februari 2018

chapter 12

“Maunya apa sih orang itu”. Ku tendang kaleng kosong begitu ku langkahi jalan setapak menuju rumahku. “Arghhh! Bikin kesel ajah”.
“Kenapa? Gak suka”. Teriak orang dibelakangku.
Aku pun segera menoleh ke belakang.
Orang yang membuat aku muak benar-benar ada dihadapanku sekarang.
“Ngapain kamu disini?”. Aku melangkah menghampirinya. “Oh! Mau mata-matain aku lagi trus lapor deh ke orangtua aku sekalian,biar kamu puas”.
“Ini kan jalan umum”.
“Hah! Jalan umum”. Sinisku. “Iya kamu memang benar. Tapi gak sepatutnya kamu disini”.
“Aku kesini cuma minta penjelasan dari kamu. Bukankah ini sudah diluar jam kantor”.
“Penjelasan?”. Tanyaku penuh kebencian. “Apa lagi yang mau dijelasin”.
“Kenapa kamu berani menghianatiku. Bukan,kah kita saling mencintai. Kamu sendiri yang setuju menjadi pacarku”.
Aku tertawa sebisanya. “Itu lagi”.
“Aku cuma minta penjelasan dari kamu”. Teriaknya. “Sudahkah untuk memberikan alasan”.
“Penjelasan! Baik! aku akan kasih kamu penjelasan yang sejelas-jelasnya”.
Rio menyuruhku masuk ke mobilnya.
Aku hanya menurut saja.
“Coba kamu beri penjelasan”. Perintahnya.
Aku menarik nafas dalam-dalam. “Aku cuma mencintai Dika seorang”. Ungkapku.
“Apa maksud kamu? Jadi selama ini hubungan ini kamu anggap apa?”.
“Aku gak pernah cinta apalagi suka sama kamu. Jelas aku hanya mencintai Dika. Kamu dimataku bukanlah seseorang yang ingin kucintai”.
Rio menamparku.
“Jadi yang mau kamu bilang. Selama ini kamu mempermainkan aku. Hah!!”.
Aku hanya mengangguk.
“Kamu ini manusia atau bukan ,sih?”.
“Aku benar-benar mencintai Dika. Sampai akhirnya Dika meninggalpun aku masih tetap mencintainya”.
“Dika! Dika! Terus saja sebut dia”.
“Kamu!”. Aku menunjuknya penuh kemarahan. “Telah membuat aku tidak bisa bertemu dengannya untuk terakhir kalinya”. Teriakku.
“Karma untukmu”. Ungkapnya datar.
“Gara-gara kamu, aku tidak boleh keluar rumah. Apalagi menemui Dika untuk terakhir kalinya. Kamu tahu gak sih rasanya kayak apa?”. Aku mulai menangis lagi. Setelah sekian lama aku memutuskan untuk tidak akan meneteskan air mata.
“Itu pelajaran buat kamu, karena kamu sudah melukai hatiku”. Rio juga menangisi dirinya.
“Aku tidak pernah berniat untuk melukai hatimu. Ini bukan salahku”. Teriakku padanya. “Ini semua! Tanyakan saja pada teman-temanmu”.
Aku segera beranjak keluar mobilnya. Namun tiba-tiba saja perutku rasanya sakit.
“Kenapa?”. Tanya Rio yang melihatku memegangi perutku.



“Kau Tanya saja pada teman-temanmu”. Aku segera keluar dari mobilnya dan berlari di dalam kegelapan menjauhinya.

chapter 11

Hari pertama kerja inilah yang sangat menegangkan. Bertemu teman baru dan harus beradaptasi dengan lingkungan kerja. Apalagi masalah Rio. Entah apa aku bisa menghindar darinya terus.
“Oke rekan-rekan! Saya perkenalkan rekan kerja kita yang baru”. Ungkap Pak Sudibyo kepada penghuni lantai 7.
“Perkenalkan nama saya Sashi Hindayani. Saya senang bisa bekerja disini bersama rekan-rekan. Mohon bantuannya”.
“Sashi ini adalah sekertaris kita yang baru”. Jelas Pak Sudibyo lagi.
Terlihat jelas wajah-wajah para wanita menjadi tidak seramah tadi, begitu mendapati penjelasan pak Sudibyo.
“ Mohon bantuannya”. Ungkapku lagi. Dan mereka semua segera kembali pada kerjaannya.
Aku harus berusaha. Semangatku dalam hati.
“Ruangan kamu disebelah sana,Sas”. Tunjuk pak Sudibyo pada ruangan yang tertutup yang berbeda dengan ruangan rekan-rekan disini.
Aku mengikuti pak Sudibyo.
“Saya kenalkan kamu dengan managernya”. Jelas pak Sudibyo yang melihatku agak kebingungan. “Nyantai aja,Sas! Di sini orangnya ramah-ramah kok”.
“Terima kasih,Pak”. Senyumku pada Pak Sudibyo. “Saya mungkin agak gugup”.
“Saya mengerti. Tapi, kegugupan itu dapat kamu hadapi,kan”.
“Iya,pak”.
“Oke! Mari kita masuk ke dalam”. Pak Sudibyo membukakan pintu , memasuki ruangan yang menjadi rungan kerjaku tiga tahun ke depan.
“Pak!”. Sapa Pak Sudibyo kepada seseorang yang sudah duduk di ruangan itu . Sepertinya jabatannya lebih tinggi dari pada Pak Sudibyo.
“Kenalkan sekertaris baru bapak”. Terang Pak Sudibyo.
Aku hanya menunduk, bak anak kecil yang sedang malu-malu.
“Namanya Sashi,Pak”. Jelas Pak Sudibyo lagi memperkenalkanku pada manager di lantai 7 ini.
Manager itu malah mendorong bangkunya kebelakang. Aku jadi tambah panik. Sepertinya manager ini galak bukan main.
Aku pun mulai memberanikan diri.
“Kenalkan pak!”. Aku menyodorkan tangan kepada manager dihadapanku ini.
“Saya Sashi”. Jelasku sembari menaikkan wajahku untuk dapat melihat manager yang baru saja membuat aku dan Pak Sudibyo ini agak ketakutan karena ulahnya.
Ia membalas jabatan tanganku.
Rio!
Aku mencoba menarik jabatanku tapi orang dihadapanku ini malah menggenggam erat-erat.
Ia malah memandangku dalam-dalam.
Aku membuang muka.
Pak Sudibyo hanya kebingungan dengan tingkah kami.
“Senang bisa bekerja sama dengan bapak”. Ungkapku penuh kebohongan dan seolah-olah memandangnya.
“Pak!”. Panggil pak Sudibyo pada Rio.
“Oh! Iya!”. Kejutnya sambil melepas tanganku. “Saya Rio”.
“Bapak tidak apa-apa?”. Tanya Pak Sudibyo begitu melihat raut wajah Rio yang seperti ingin menerkam orang dihadapannya itu.
“Sas! Kamu sudah kenal dengan pak Rio,kah?”.
“Tidak,Pak!”. Bohongku lagi. “Saya baru pertama kalinya bertemu dengan pak Rio”.
“Senang bisa menjadi sekertaris pak Rio”. Senyumku padanya.
“Baguslah! “. Ia memunggungi kami. “Pak Sudibyo! Anda boleh kembali ke tempat kerja Anda”.
“Kalau gitu saya pamit dulu”. Ia pun pergi meninggalkan kami berdua di ruangan itu.
Aku dan Rio hanya berdiam diri. Tanpa berkata apapun. Ia masih memunggungiku.
Aku pun memberanikan diri untuk melangkah mundur ke meja kerja yang sebelumnya sudah diberitahu pak Sudibyo.
“Berani sekali kamu berbuat ini pada saya,Sas”. Begitu ia mengetahui aku sudah duduk di meja kerjaku.
“Maaf,pak! Saya tidak mengerti maksud bapak”.
Ia malah menghela nafas dan tertawa kecil. “Aku ini kamu anggap apa,Sas”.
Raut wajahnya mulai memadam.
Entah mengapa orang yang kukenal dulu ini masih belum berubah saja, masih sering menampakkan wajahnya yang kelabu.
“Maaf,Pak! Saya disini untuk bekerja bukannya ngurusin masalah pribadi”. Ungkapku datar.
“Kerja!”. Tawanya lagi. “Baiklah kalau itu maunya kamu”. Ia pun menyerahkan setumpukkan dokumen-dokumen.
“Salin itu semua dan berikan kepada saya sebelum istirahat”. Ia pun pergi dari ruangan sembari membanting pintu.
“Hah! Gila banget. Selesaikan sebelum istirahat”. Protesku mengikuti gaya bicaranya. “Orang yang lincah sekalipun gak mungkin nyelesaiin sampai istirahat,tau”. Kesalku.
“Sampai jam pulang pun udah hebat banget”. Ungkapku lagi. “Arghhh”.
Sampai jam istirahatpun salinannya baru sampai setengah dari tumpukan dokumen ini.
Kak Sania pun menelponku untuk menagih janjiku untuk mentarktirnya namun harus ku batalkan karena pekerjaanku belum selesai.
Sampai jam pulang kerja pun dokumen yang belum tersalin masih ada lima rangkap lagi.
Dan Rio sejak menyuruhku tak kunjung balik ke ruangan ini.
Pak Sudibyo menenggokku yang tak kunjung pulang begitu melihat rekan-rekan diluar sudah beranjak pulang.
“Tidak pulang,Sas?”. Tanyanya.
“Sebentar lagi,Pak! Kerjaan saya belum selesai”.
“Sedang mengerjakan apa?”.
“Ini,pak! Saya disuruh pak Rio menyalin dokumen-dokumen ini”. Aku menunjukkan tumpukan dokumen-dokumen yang diberikan Rio padaku.
“Bukannya ini sudah di salin oleh sekertaris lama”. Jujur pak Sudibyo. “Filenya ada di ruang data”.
Tubuhku serasa mulai melemas. Sia-sia kerjaku hari ini.
“Mungkin pak Rio lupa”. Belanya. “Coba saya telepon pak Rio dulu”.
Hah! Benar-benar Rio ini. Sepertinya ia memang berniat balas dendam padaku.
“Pak! Ini saya Sudibyo”. Sapanya dibalik telepon. “Dokumen yang bapak suruh kepada Sashi untuk disalin sudah ada file salinannya di ruang data,pak”. Jelasnya. “Oh begitu,pak! Oke! Nanti saya sampaikan,Pak!”.
Telepon pun terputus.
“Mm. Gimana ya,Sas! Saya mewakili pak Rio untuk mohon maaf padamu”.
“Maaf kenapa,pak?”.
“Pak Rio lupa kalau dokumen ini sudah disalin. Mohon maaf,Sas!”.
“Tidak usah minta maaf,pak”. Ungkapku pahit. “Saya tidak apa-apa kok ,Pak. Lagian ini kan bisa jadi pemanasan untuk saya”.
“Kalau gitu. Anda sudah bisa pulang sekarang”.
“Oh! Iya pak! Terima kasih atas bantuannya”. Aku pun segara pulang dengan wajah yang terpaksa untuk tersenyum. “Saya pulang dulu”.



“Oke! Sampai ketemu besok”.

chapter 10

“Bagaimana interviewnya?”. Tanya seniorku, kak Sania begitu aku keluar dari ruangan interview.
“Alhamdulillah. Aku diterima,kak”. Girangku.
Dialah seniorku yang menawariku bekerja disini.
“Oh! Baguslah!”. Senangnya. “Aku dah dag-dig-dug aja”.
“Oh! Jadi meragukan kemampuanku nih”.
“Buka begitu,Sas!”. Sanggahnya. “Soalnya aku juga ngelamar disini dua kali gagal, baru yang ketiganya berhasil”.
“Mungkin aku sedang beruntung”.
“Hehe.. mungkin juga. Tapi, baguslah kamu kerja di sini”.
“Kenapa kak emangnya?”.
“Ya,kan jadi punya temen satu almamater gituh”.
“Dikirain ada apa?”.
“Soalnya,Sas?”. Keluhnya. “Di kantor ini ada manajer yang ganteng abis”.
“Trus!”.
“Ya ampun! Ini tuh udah jadi buruan para jomblowati di gedung ini,Sas”. Kesalnya padaku yang menganggap sepele masalah ini.
“Aku kesini untuk kerja,kak”. Jelasku.
“Trus emangnya gak boleh senang-senang dikit”.
“Apa sih bagusnya manajer itu?”. Kesalku pada kak Sania begitu melihat wajahnya yang seperti ingin memakanku.
“Dia itu lulusan di universitas negri di kota ini. Wah! Itu kan kampus yang diidamkan olehku,Sas!”. Curhatnya. “Lulusannya pasti bagus-bagus”.
“Kampus kita juga bagus kok”.
“Iya sih! Tapi pak Rio tuh berkharisma”. Terangnya lagi.
“Apa?”. Kejutku begitu kak Sania menyebutkan nama yang pernah menjadi bagian dalam hidupku.
“Kenapa sih?”. Celetuknya. “Denger namanya sampai histeris gitu apalagi liat orangnya”.
“Bukan! Bukan begitu kak. Aku Cuma”.
“Cuma apa? Kamu juga jadi tertarik kan sama Pak Rio”.
“Rio?”. Ulangku.
“Iya! Pak Rio. Kenapa emangnya? Ada yang salah?”.
“Gak! Aku Cuma”.
“Nah! Itu Pak Rio”. Kak Sania menunjukkan seseorang yang sedang berjalan tegap penuh kharisma seperti yang dibilang kak Sania, menuju kea rah kita.
Dari kejauhan aku bisa melihat jelas dialah Rio yang dulu pernah ku kenal.
Aku segera mengumpat dibahu kak Sania.
Kak Sania hanya menyunggingkan senyumnya kepada pak Rio yang dimaksudnya itu, walaupun yang orang yang diberi senyumnya tidak membalas dan malah jelas-jelas tidak melihat ke arahnya.
“Kenapa sih malah ngumpet?”. Omel kak Sania begitu Rio sudah tidak terlihat.
“Aku Cuma! Kaget ajah”. Aku menghela nafas dalam-dalam.
“Kenapa? Ganteng yah?”. Ia mulai tersipu-sipu sendiri seolah-olah ia yang dipuji.
“O iya kak! Kalau aku membatalkan kontrak kerja aku harus bayar berapa?”. Tanyaku panik.
“Belum juga benaran masuk kerja udah mau mengundurkan diri”. Protesnya. “ Lima ratus juta”.
“Apa?”.
“Iya segitu! Udah ngapain sih pakai acara ngebatalin. Disini enak kok kerjanya. Orang-orangnya juga asik!”.
“Aku! Aku Cuma nanya aja kok”.
“Ya udah! Kalau gitu saya mau balik ke ruang kerja dulu nih. Ntar diomelin atasan”.
“Oke deh! Makasih ya kak”.



“Sama-sama”.

chapter 9

Entah sudah berapa lama aku tertidur, kepalaku mulai terasa berat.
Aku memegangi kepalaku terasa empuk, ternyata ada kain kecil yang baru diganti oleh adikku.
“Jam berapa,Nin?”. Tanyaku begitu tersadar ia ada dihadapanku.
“Mau kemana emangnya?”. Tanyanya balik.
“Nanya doang”. Balasku ketus.
Entah mengapa baru bangun bawaannya bĂȘte.
“Makan dulu buburnya,baru kakak pergi ke pemakaman. Kakak udah tidur sekitar 20 jam”. Jawabnya.
“Pemakaman?”. Tanyaku panik. “Siapa yang meninggal,Nin”.
“Yang pasti bukan keluarga kita”.
Perasaanku makin tidak tenang. Aku segera beranjak bangun, tapi kepalaku malah tambah pusing.
“Aku bilang kan makan dulu,kak”. Kesalnya. “Nanti Papa yang mengantar”.
Aku segera menghabiskan bubur dihadapanku. Dan bergegas ke kamar mandi.
Nina langsung menghadangku.
“Apa sih, Nin? Kakak lagi buru-buru”.
“Sabar dong,kak! Air panasnya juga belum dimasak”.
“Ngapain sih pakai air panas segala”. Kesalku.
Dari tadi bawaannya emosi melulu nih.
“Gak nyadar yah! Suhu tubuh kakak tuh 39° “. Terangnya. “Mandinya pakai air hangat biar enakan”.
Aku baru menyadarinya begitu menyentuh leherku sendiri.
“Makannya kalau hujan tuh pakai payung,dong”.
“Makasih,dek”. Senyumku padanya.
“Kayaknya air panasnya udah jadi”. Ungkapnya tanpa membalas senyumanku.
Aku pun segera beranjak mandi begitu Nina sudah mencampurkan air panas dengan air di dalam bak sehingga airnya menjadi hangat.
Papa sudah menungguku di depan teras.
“Siapa yang meninggal,Pa?”. Tanyaku penasaran begitu Papa menstarter motor bebeknya.
“Teman kamu”. Jawab Papa singkat seolah-olah enggan untuk ditanya lagi.
Teman! Teman yang mana? Kesalku dalam hati. Kenapa sih gak kasih tahu namanya sekalian. Jawabnya kok setengah-setengah, malah bikin orang jadi penasaran ajah.
“Pemakamannya udah sepi”. Terang Papa padaku.
“Teman aku yang mana,Pa?”. Tanyaku mulai kesal.
“Papa juga tidak tahu. Cuma dikasih tahu lewat sms di hape kamu”.
“Mana hape aku”. Tanyaku pada papa dengan nada tinggi.
“I-ini”. Papa mengeluarkan handphoneku dengan perasaan takut.
“Kalau Papa terus terang dari awal, kita gak akan tersesat kayak gini”. Protesku.
Begitu ku buka folder inbox, terdapat 10 pesan masuk. Salah satunya dari Rio.
Begitu melihat namanya di layar handphone, aku segera menghapus tanpa membacanya.
Kulihat lagi pesan masuk yang lain. Paling banyak dari Dika. Tapi entah mengapa terkesan di pesannya bukan dari dia, melainkan keluarganya.
Aku baca dengan seksama satu persatu pesannya tertanda dibawahnya ibunda Dika.
Tubuhku langsung melemas begitu membaca pesan terbarunya.
Papa ikutan panik begitu melihatku hampir roboh.
“Kamu tidak apa-apa,kan Sas!”.
Aku hanya menangis dan berteriak dihadapan Papa yang tambah panik.
“Antar aku ke rumah Dika,Pah”. Pintaku pada Papa.
Papa langsung menuruti perintahku tanpa bertanya apapun.
Aku berlari memasuki rumah Dika yang sudah bertenda kelabu di depan rumahnya. Aku mendapati ibunya Dika sedang terisak di samping anak perempuannya yang paling tua.
“Dika mana,tante?”. Tanyaku panik begitu tidak melihat sesosok tubuh yang dibalut kain kafan.
“Sudah dikuburkan”. Jawab kakak tertuanya Dika.
Aku hanya bisa menangis terisak beradu dengan tangisan ibunya Dika.
Papa menghampiriku dan menyuruhku pulang.
“Aku mau ke makamnya dulu,Pah”. Mohonku.
“Oh! Baiklah!”.
Papa pun segera mengantarku setelah menanyakan tempat pemakamannya pada keluarga Dika.
Berat langkahku melangkahkan kaki begitu sampai di tempat pemakaman.
Aku hanya bisa menangis dan menangis.
Papa merasa iba melihatku yang sejak tadi hanya menangis. Dan ia lebih memilih untuk diam.
Di depan kuburannya aku menangis tambah kencang. Papa hanya melihatku dari kejauhan.
Aku memang seolah-olah menjadi orang yang tidak waras. Menangis dan berteriak.
“Udah! Jangan ditangisi lagi”. Begitu mendapati ku yang tak kunjung berhenti menangis.
“Kita pulang”. Papa menarikku menjauhi kuburan Dika.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena tubuhku seluruhnya terasa tanpa nyawa.
Tidak ada suara-suara penasaran adikku begitu aku dan papa sampai dirumah.
Ia hanya menutup diri dan menjauh dari kehadiranku.
Entah mengapa aku merasa asing dirumahku sendiri.
Apalagi begitu papa mendapati tugas diluar kota sehingga kami sekeluarga harus pindah tempat tinggal dan aku pun harus pindah kuliah. Suasana kota barupun harus kujalani.
Dua tahun berlalu dikota baru ini, suasana hati kami semua sudah membaik. Apalagi aku dan adikku sudah tidak ada perseteruan seperti di tempat tinggal kami yang lama. Aku pun sudah bisa menyelesaikan kuliahku di suatu Perguruan tinggi swasta yang terdekat dari rumah.
Perasaan senang bercampur sedih membendung di dalam dadaku. Karena begitu lulus aku mendapat tawaran kerja dari suatu instansi swasta di daerah tempat tinggalku dulu. Tempat yang benar-benar inginku hilangkan dari ingatan. Namun entah mengapa didalam lubuk hatiku tertanam kerinduan dengan kota itu.
Papa dan Mama pun memberikan ijin dengan syarat harus tinggal di rumah kami yang dulu. Aku pun menyetujuinya.
“Nina mau juga dong SMA disana,pah”. Rengek Nina begitu mengetahui kepergianku.
“Kenapa sih mau ngikut ajah”. Protesku.
“Kalau nilai UAN kamu 10 semua. Mungkin bisa papa pertimbangkan”.
“Asik!”. Girang Nina. “Kalau soal nilai gak masalah”.
“Kita lihat aja hasilnya bulan depan”.Tantangku.
Buat Nina nilai tidak jadi masalah. Karena ia jelas-jelas siswa terpandai di sekolahnya.



Bangga juga sih, tapi kadang-kadang sebal. Karena aku gak bisa sepintar dia.

Chapter 8

“Kita mau ke mana,Dik?”. Tanyaku begitu ia memboncengku dengan motor andalannya.
“Ntar juga loe tahu”.
“Ayo,pak Dika! Dari tadi ditungguin”. Sapa seorang wanita begitu kami sampai di sebuah travel.
“Ditungguin kemana,Dik?”. Tanyaku penasaran.
“Ke Dufan”. Jelasnya.
“Ayo bu Sashi juga cepetan”. Ajak wanita itu memasuki mobil bermuatan banyak itu.
“Semuanya sudah menunggu yah?”. Tanya Dika penuh ramah pada orang-orang yang sudah lama menunggu.
“Maaf,yah!”. Ungkap Dika penuh penyesalan. “Tadi saya jemput pacar saya ini. Maaf yah!”.
“Iya ga-pa-pa”. Ungkap seorang lelaki di bangku paling belakang.
“Gak ada pacar gak enak”. Ceplos disampingnya.
“Oke! Berhubung semua sudah kumplit. Saatnya berangkat”. Teriak antusias Dika diikuti teriakkan penumpang lainnya.
“Sepertinya mereka senang sekali,Dik?”. Bisikku padanya.
“Yaiyalah! Mereka kan belum pernah ke Dufan”.
“Tapi, aku biasa ajah”. Ungkapku jujur.
“Loe kan jaga image”.
“Hmm.. enak ajah”.
“Gw mau tidur,Sas! Bangunin aku kalau udah nyampe”. Pintanya begitu mobil sudah melaju.
“Sini biar gak sakit”. Aku meminjamkan bahuku untuk menjadi sandarannya.
Dika hanya tersenyum.
Entah apa yang ada dipikiranku. Aku berbohong pada semua orang untuk memenuhi keinginan Dika ini.
Tapi aku senang bisa jalan-jalan dengan Dika tanpa diganggu siapapun.
“Mau naik apa?”. Tanyanya padaku begitu rombongan sudah berpisah.
“Semuanya”. Teriakku antusias.
“Ayo kita acak-acak dufan ini. Haha!!”. Tawanya girang.
Semua macam permainan kami ikuti. Mulai dari kora-kora, hingga tornado.
Sepanjang hari kami hanya tertawa-tawa dengan riang. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu.
Dan kami pun sudah harus berkumpul lagi untuk perjalanan pulang.
Sepanjang jalan, pikiranku resah tak menentu. Entah mengapa saat kubayangkan hari-hariku tanpa Dika perasaanku jadi sedih.
Aku ingin menghentikan waktu ini, biarlah aku dan Dika seperti ini saja, tanpa ada yang memisahkan.
Tapi apalah daya, waktu jua yang memisahkan begitu mobil ini sudah kembali di kota kami.
Dika pun mengantarku ke rumah. Namun tiba-tiba saja hujan deras membasahi bumi ini. Inikah jawaban dari doaku. Aku bisa berlama-lama dengannya lagi.
Aku bersyukur masih memiliki waktu yang agak lama untuk bersama Dika. Kami berhenti di pinggir halte dekat rumahku.
“Dik!”. Panggilku.
Ia menoleh sambil memegang kedua tangannya kedinginan.
“Terima kasih untuk semuanya”.
“Sama-sama”. Ucapnya menggigil.
Aku langsung memeluknya.
“Kurasa kau kedinginan”.
Dika menyambut pelukanku.
“Bolehkan kita seperti ini?”. Tanyanya padaku.
“Kau amat kedinginan,Dik”.
“Terima kasih”.
Kulonggarkan pelukan ini. “kurasa hujan sudah reda”. Ungkapku.
“Iya!”.
Sebelum Dika memasang helmnya lagi, aku tiba-tiba mencium bibir Dika. Entah apa yang ada dipikiranku, yang pasti aku amat sedih dengan perpisahan ini. Begitu menyakitkan.
Dika terkejut dengan perlakuanku padanya.
“Cinta kamu,Sas”. Tiba-tiba Dika mengucapkan kata-kata yang sudah lama kuharapkan.
Dika membalas ciumanku.
“Maaf sudah membuatmu seperti ini”. Ungkapnya sedih. “Tapi,aku akan menunggu kamu, Sas”.
Aku memeluknya lagi dengan begitu erat. Entah mengapa aku merasa tidak akan bisa memeluknya lagi.
“Aku pulang,yah?”.Pamitku.
“Okey!”. Ia segera memakai helmnya kembali.
“Sampai sini aja,Dik”. Perintahku. “Aku pulang sendiri. Sampai ketemu besok”.
Aku segera berlari kecil tanpa menoleh ke arahnya. Aku takut sekali untuk melihatnya. Kalau aku melihatnya, perasaan kehilangannya akan semakin menjadi.
“Selamat tinggal, Sas!”. Teriaknya.
Aku langsung terdiam begitu mendengar perkataannya. Entah mengapa perkataannya terasa kutukan bagiku.
Aku meloleh kearahnya dan tersenyum padanya. “Sampai ketemu besok”. Tegasku.
Ia tidak menjawab hanya membalas senyumanku.
Entah mengapa senyumannya itu terasa begitu indah dari sebelumnya.
“Hati-Hati di jalan”. Aku pun segera berlari lagi di bawah rintikan sisa air hujan.
Jangan menoleh lagi,Sas. Ungkapku dalam hati.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku semakin kacau. Tetesan air hujan pun sudah bercampur dengan air mataku.
“Aku pulang!”. Sapaku pada penghuni rumah yang terlihat sedang berkumpul di teras rumah.
Plak! Tiba-tiba saja Papa menamparku dengan amat sangat sakit.
Wajahku yang sudah tanpa air mata kini mulai memerah dan air mataku pun terjatuh lagi.
“Masuk ke kamar mu”. Perintah Papa dengan nada amat garang.
“Kenapa,Pah?”. Isakku.
“Cepat ke kamar kam. Sekarang!”. Perintahnya tanpa memandangku.
Jelas-jelas Papa sedang marah besar.
“Aku ke kamar”.
“Semuanya masuk”. Perintah Papa pada Mama dan Nina.
Entah masalah apa yang sebenarnya terjadi, sampai-sampai Papa begitu marahnya padaku.
“Lihat ini!”. Papa melempar beberapa lembar foto ke arahku dan alhasil jatuh di lantai.
Aku memunguti foto-foto itu satu persatu.
Ini aku. Ungkapku dalam hati. Dan Dika.
Bukankah ini kejadian yang tadi. Kenapa begitu cepat sampai ke tangan orangtuaku.
“Dari siapa ini,Pah?”. Tanyaku pada Papa dengan nada panik.
“Tidak perlu tahu”. Ungkap Papa lelah.
“Kamu telah membohongi kami”. Mama ikut berbicara. “Kami sangat kecewa”.
“Ma! , Pa! ini tidak seperti yang kalian lihat”. Bantahku.
“Ini jelas-jelas kamu. Masih mengelak saja”. Papa sudah makin kesal.
Siapa yang telah berbuat setega ini. Ini memang aku. Aku memang benar telah mengecewakan orangtuaku. Ini memang salah. Tapi, siapa begitu tega. Siapa?
Aku hanya terisak diantara orangtuaku dan Nina.
“Jangan contoh yang seperti ini, Nin”. Hina Papa. Nina hanya mengangguk.
Kata-kata Papa begitu menyakitkan.
“Liburan semester ini tidak boleh keluar rumah”. Ungkap Papa dan Mama bersamaan.
Aku tahu ini hukuman yang wajar. Tapi, apa bisa aku bertahan tidak bertemu dengan Dika.
“Angkat teleponnya”. Perintah Papa pada Nina begitu terdengar suara panggilan telepon di ruang tengah.
Nina dengan segera berlari menghampiri pesawat telepon.
“Buat Kak Sas,Pah!”. Teriaknya dari ruang tengah.
“Dari siapa?”. Papa ikutan teriak.
“Kak Vita!”. Teriak Nina lagi.
“Jangan lama-lama”. Ucap Papa singkat sembari meninggalkan kamarku.
Aku segera menghampiri pesawat telepon.
“Nih!”. Ketus Nina kepadaku. Sungguh sudah tidak ada maaf buatku.
“Terima kasih,Nin”. Kubalas dengan senyum. Namun ia hanya tersenyum tipis seolah-olah jijik padaku.
Aku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam melihat tingakah adikku yang mulai membenciku.
“Halo,Vit!”. Sapaku begitu Nina sudah menghilang dari pandanganku.
“Gimana kejutannya? Menarikkan?”. Ungkap suara di seberang yang jelas-jelas bukan suara perempuan.
Aku amat mengenal suara itu.
“Rio!”. Kejutku.
“Iya,sayang! Ini aku”.
“Apa-apaan kamu! Apa sih maunya kamu”. Kesalku.
“Duh! Jangan marah-marah dulu dong”. Ungkapnya tenang.
“Jelaskan padaku. Apa maksud dari semua ini”. Amarahku sudah memuncak.
“Wah! Kayaknya udah marah banget yah!”. Senangnya. “Baguslah!”.
“Kalau kamu marah karena aku udah bohongin kamu. Ya udah bilang aja”. Ketusku. “Gak usah kamu libatkan dengan orangtua saya”.
“Marah!”. Tawanya. “Aku udah muak sama kamu”.
“Kalau kamu mau putus ya putus ajah”. Dia sudah benar-benar membuatku amat kesal.
“Ini ganjaran buatmu karena sudah sering mengecewakanku. Kalaupun aku sudah putus denganmu, aku tidak mau kamu bahagia dengannya”.
“Kamu!”.
“Kenapa? Kesal, yah! Haha…. “.
“Kamu ini benar-benar keterlaluan”.
“Kalau kamu mau balik lagi sama aku. Datanglah ke Bandara jam 7 pagi”. Jelasnya. “Aku masih memberikan kesempatan padamu”.
“Gak akan”. Jawabku tegas.
Aku pun langsung menutup gagang telepon dengan kesal.
Benar-Benar orang ini.
Aku kembali ke kamar. Ku lihat Papa sedang membongkar isi tasku.
“Ini dia”. Ucapnya begitu menemukan handphoneku.
“Buat apa,pah?”. Tanyaku curiga.
“Handphone kamu Papa sita”. Ungkapnya puas. “Sana tidur!”.
Papa , Mama dan Nina sudah amat membenciku. Kata maafpun tidak bisa meredakan kebencian mereka. Karena mereka merasa telah dibohongi olehku. Ya, aku memang telah berbohong tentang kepergianku pagi ini. Tapi kalau soal aku pacaran, aku jelas-jelas tidak pacaran. Itu hanya perjanjianku dengan teman-temannya.
Dibalik selimut yang hangat aku menangisi penyesalanku telah membohongi keluargaku.
Tapi, ada saatnya aku mengingat Dika tangisanku semakin terisak saja. Entah mengapa perasaanku tidak tenang jika mengingat Dika. Aku takut terjadi apa-apa dengannya, apalagi jika Rio berbuat sesuatu pada Dika.
Guyuran hujan yang deras membuat suasana menjadi seakan sepi, hampa dan membuatku mulai tertidur dibaluti tangisan.
NB: cerita ini hanya fiktif belaka
(terima kritik dan saran yang membangun)
*terima kasih sudah membaca*

Chapter 7

Inbox> from: Sashy-baby
Dik! Loe kenapa boong ma w?
Tadi ad kul,kan?
Dik! Maaf kita kayaknya gak bisa jalan-jalan kayak dulu lagi.
W dah terlanjur janji ma Rio.
Maaf ya,Dik!
Loe emang temen W paling baik.
Tolong jangan main sama w lagi.
Thanks.
Perasaan ini pedih sekali, begitu menyadari tidak akan ada Dika lagi yang gangguin, yang ngomelin, yang ngebohongin. Gak akan ada lagi bersama Dika.
Kenapa hidupku kayak begini. Seperti di penjara ajah.
Inbox> From: Dik_do2L
Ini keputusan kamu,sas??
Inbox> from: Sashy-baby
Iya,dik. Aku udah gak mau nyakitin di a lagi.
Kalau kita main bareng lagi, itu malah bikin dia sedih.
Sorry ya,dik.
Inbox> From: Dik_do2L
Okeh! Kalo itu keputusan loe.
Tapi gw minta satu permintaan.
Loe mau kan jalan sama gw untuk terakhir kalinya.
Hanya sekali dan terakhir.
Inbox> from: Sashy-baby
Ok! Kpn?
Inbox> From: Dik_do2L
Minggu. 5 subuh. Di Halte biasa.
NB: cerita ini hanya fiktif belaka.
(terima kritik dan saran yang membangun)
*terima kasih sudah membaca*

Chapter 6

Capek banget hari ini. Tapi senang juga, apalagi bisa ngedapetin si beruang ini.
“Akhirnya aku bisa mendapatkan kamu juga”. Teriakku di kamar.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Dan mulai memejamkan mata.
Dan aku mulai bermimpi. Mimpi indah atau mimpi buruk, entahlah. Yang penting ini hanya mimpi.
Terdengar di kejauhan ada yang memanggil-manggil namaku. Suara itu tidak begitu asing di telingaku.
“Kak Sasi!”. Panggil adikku dibalik pintu.
“Kak buka dong!”. Gedornya lagi.
“Kak!”. Teriaknya kesal.
“Ah! Iya!”. Aku baru tersadar dari mimpiku. “Bentar Nin”.
Aku merapihkan rambutku dan wajahku yang agak berminyak.
“Ada apa, Nin?”. Tanyaku agak sempoyongan.
“Itu ada temennya”.
“Apa?”. Teriakku begitu mengetahui maksud Nina membangunkanku.
“Siapa?”. Tanyaku detail.
“Gak tahu! Katanya sih namanya Rio”.
“What?”. Spontan aku mencengkram bahu Nina.
“Apan sih kak? Sakit tahu”. Kesalnya.
“Maaf,nin! Aku agak syok”.
“Pacarnya yah?”. Selidiknya. “Bilangin papa loh”.
“Enak ajah! Siapa lagi yang pacaran”.
Aku mulai panik, amat panik. Apalagi Nina bilang dia udah di ruang tamu dan lagi ngobrol sama papa pula. Oh My God! Mimpi apa semalam.
“Ada apa,pah?”. Tanyaku pada papa yang lagi asik mengobrol.
“Oh! Sini-sini!”. Papa meyuruhku menghampirinya.
“Ini! Nak Rio, katanya kakak tingkat kamu”.
Aku hanya mengangguk.
“Dia katanya mau nganterin buku catatan kamu yang ketinggalan”.
Aku hanya mengangguk lagi.
“Ini bukunya”. Rio meyerahkan sebuah buku yang jelas-jelas memang milikku.
“Tadi ketinggalan di kantin”. Terangnya. “Untung ada alamatnya di dalam buku ini”.
Massa, sih?.
“Dek Rio ini baik sekali loh,Sas. Mana ada jaman sekarang anak muda yang berpikiran seperti dek Rio ini. Kalau anak muda sekarang mah biasanya bodo amat”.
“Iya,pah!”. Anggukku. “Makasih kak Rio”.
“Kalau gitu, saya ijin pulang dulu pak”. Pintanya.
“Oh! Sudah mau pulang. Kalau gitu! Sas, kamu anter sampai jalan”. Perintah papa.
“Bukannya kak Rio bawa motor,pah”.
“Oh! Tidak! Dia jalan kaki kok”. Terang papa. “Ya,kan nak Rio”.
“Iya,pak!”. Rio menyetujui pernyataan papa. “Tapi, kalau Sashi gak mau juga ga-pa-pa,pak. Saya bisa sendiri”.
“Oh! Jangan! Nanti kesasar lagi”. Protes papa. “Sas, kamu mau kan nganterin dek Rio”. Paksa papa.
“Iya,pah!”. Anggukku setuju.
“Permisi,pak”. Pamit Rio.
Aku mengantar Rio dengan diam tanpa berkata apapun.
“Tadi ,buku kamu ketinggalan di kantin”. Rio memulai pembicaraan.
Aku hanya diam.
“Tadi aku ke kelas kamu tapi gak ada orang”. Ungkapnya lagi.
“Tapi katanya ruangannya pindah. Jadi aku cari ruangan kamu, tapi..”. Jelasnya lagi.
“Aku kan udah bilang ke kakak. Jangan pernah ke rumah aku”. Kesalku.
“Kenapa kamu bohong sama aku,Sas”. Sedihnya.
“Aku! Bohong apa?”.
“Kamu bilang mau kuliah. Tapi kamu malah pergi sama si Dika”.
“Aku emang mau kuliah, tapi dosennya gak ada. Dan aku sama Dika cuma jalan-jalan ajah”. Jelasku penuh amarah. “Dan aku bohong dimananya? Apa karena aku jalan sama Dika. Aku kan udah bilang sama kakak, aku dan Dika itu cuma teman”.
Plak. Rio menamparku. Tamparannya tidak begitu sakit tapi amat menyakitkan hatiku.
“Kalau hanya teman, kenapa kamu mencium dia”.
Aku kaget mendengar perkataan Rio. Kenapa dia tahu. Aku benar-benar binggung dengan semua ini. Serasa akulah biang keladinya. Akulah yang menjadi penjahatnya.
“Maaf!”. Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tidak berani menatap matanya, yang ku yakin penuh dengan amarah.
Putuskanlah aku. Bisikku dalam hati.
“Kurasa kamu telah dibohongi olehnya”.
“Bohong mengenai apa?”. Tanyaku tanpa memandang matanya.
“Jelas-jelas kalian berdua nitip absen ke Gita. Dan kamu gak tahu sama sekali”.
“Nitip absen?”. Tanyaku penuh ingin tahu.
“Dosennya ada kok! Tapi pindah ruangan. Dan kamu malah nitip absen”.
“Aku! Bukannya!”. Aku mengingat-ingat kejadian 10 jam yang lalu.
Jelas-jelas Dika yang bilang dosennya gak ada.
Ya ampun! Dika! Dasar tuh anak! Bolos ngajak-ngajak.
“Maaf,kak!”. Aku memeluk Rio. “Maaf, aku sudah bohong”.
Ayo bilang aja putus. Setan di hatiku mulai berteriak-teriak .
Ayo dong Rio bilang putus.
Rio malah memelukku balik. Dan mencium keningku.
Kenapa jadi begini, sih!
“Aku mohon kamu jangan main lagi sama Dika. Aku takut kamu malah terpengaruh yang enggak-enggak”.
“Dika! “. Kenapa Dika sih! .
“Pipi ini masih sakit,kah?” . Tanyanya sambil mengelus-ngelus pipiku.
Aku hanya mengangguk.
Ia mencium pipiku yang terkena tamparannya tadi. Dan hendak mencium bibirku. Dan aku menghindarinya.
“Rio!”. Itulah panggilanku padanya kalau aku sudah marah padanya.
“Aku tidak akan berbuat itu, Sas! Asal kamu berjanji mau meninggalkan Dika”.
Aku hanya mengangguk.
Rio memelukku lagi. Dan aku berusaha melepaskan pelukkannya.
“Aku gak mau orang rumah tahu status kita. Kamu pulanglah”. Pintaku.
“Oke! Aku pulang”. Ia menghampiri motor yang terparkir di depan minimart.
Oh! Jadi ini emang strategi dia mengajakku keluar rumah.



Hah! Bagaimana ini. Aku-aku sudah terlanjur janji sama dia. Oh No!

Chapter 5

“Pulang kapan?”. Tanyaku kesal.
“Iya-iya! Ni juga udah mau pulang, non”.
“Cepetan deh! Keburu bokap gw pulang”.
“Kenapa sih? Emangnya bokap loe galak banget apa?”. Tanyanya pensaran.
“Kan gw udah pernah cerita”.
“Iya gw tahu. Tapi kan gw ke sini gak sebagai pacar loe. Jadi ga-pa-pa dong”.
“Kalau temen cewek . Kalau cowok, bisa curiga bokap gw”.
“Oke deh! Gw ngerti”. Dika segera bangkit dari tempat duduknya.
“Gw anter”. Terangku. “Sampai depan ajah”.
“Haha! Gw pikir sampai rumah gw”.
“Udah cepetan!”. Aku mendorongnya dengan perlahan ke a rah parkiran motornya.
“Motornya ganti dong! Bosen ngeliatnya”. Protesku begitu ia menyalakan mesin motornya.
“Duitnya mana?”.
“Bukannya udah dapet duit dari hasil nyolong kemaren”.
“Nyolong duit loe! Boleh!”.
“Hu!! Enak ajah!”.
“Ntar deh! Kalau loe udah jadi pacar gw, baru deh gw ganti”.
“Haha! Sampai lebaran monyet juga gw gak bakal jadi pacar loe”.
“Ya udah! Gw gak mau pulang”.
“Ihh!! Pulang cepetan”. Aku mendorong motornya sampai di depan gerbang.
Dika masih ngambek.
“Jangan diganti motornya”. Ungkapku penuh harap.
Dika menoleh ke arahku.
“Arigatou”. Aku mencium pipi kiri Dika. “Untuk hari ini”.
Dika hanya terpaku.
“Heh! Sana pulang”. Aku menutup gerbang.
“Sashy!!!”. Teriaknya begitu ia sadar.
“Udah ! sana pulang”. Usirku.
NB: cerita ini hanya fiktif belaka.
(terima kritik dan saran yang membangun)
*terima kasih sudah membaca*

Chapter 4

“Gw masuk dong! Kasih minum kek!”. Rengek Dika di depan gerbang rumahku.
“Ogah! Udah sono pulang”. Usirku.
“Idih! Jahat banget! Gw udah mau mati kekeringan nih”.
“Sas! Kok gak masuk”. Tiba-tiba mamaku muncul dari belokan gang. “Temennya juga ajak ajah”.
“I-Iya ma!”.
“Ayo masuk”. Mama membuka gerbang pagar dan mempersilahkan Dika memasukkan motornya.
“Seneng loe”. Bisikku pada Dika begitu mama sudah masuk ke rumah duluan.
Ia hanya cengengesan.
“Jangan lama-lama”. Ancamku lagi.
“Oke bos!”.
Kami pun masuk ke rumah. Begitu aku menyuruh Dika duduk di ruang tamu. Mama malah memanggil kami berdua untuk ke meja dapur.
“Sini makan temenin mama”. Pinta mama. “Kebetulan mama juga belum makan siang”.
“Aduh mama! Kok jam segini belum makan, nanti maagnya kambuh loh!”.
“Wah tante! Gara-gara nungguin saya yah”. Ceplos Dika sok akrab.
“Ge-er banget loe!”.Sanggahku.
“udah-udah! Jangan ribut melulu. Kalau kalian berantem, kapan makannya”.
“Hehe.. Iya juga Tan! Kebetulan, cacing saya sudah pada manggil”.
“Peliaraan loe ye”.
“Tuh, kan! Baru aja dikasih tahu udah ribut lagi”. Mama melerai. “Sini diambilin nasinya, nak”. Mama mengambil piring di hadapan Dika. “Segini cukup,kurang”. Mama menaruh satu sendok nasi di atas piring itu. Dika hanya senyum. “Oh! Kurang yah!”. Mama menambahkan satu sendok lagi.
“Jangan ngerampok rumah gw dong,Dik!”. Protesku.
“Gak pa-pa! namanya juga anak cowok. Pasti makannya banyak”. Ledek mama.
Dika hanya cengengesan ajah.
“Ma, aku ganti baju dulu”. Ijinku pada mama.
“Ya udah! Biar adek ini yang nemenin mama makan”.
“Namanya Dika,ma”. Protesku.
“Oh! nak Dika”.
“Dik! Kalau udah kelar makan cepetan pulang yah”. Perintahku sebelum masuk ke kamar.
“Gak usah cepet-cepet pulang,nak. Kan masih panas di luar”. Pinta mama begitu aku sudah masuk kamar.
“Tapi, tan! Nanti Sashy marah lagi”.
“Ga pa-pa! pengen tahu tante kalau dia marah kayak apa”.
“Hah! Tante gak tahu! Emang di rumah gak pernah marah-marah yah”.
“Enggak! Dia gak pernah marah-marah apalagi ke adiknya”.
“Wah! Kejadian langka tuh tante. Di kampus kerjaannya marah-marah melulu ke saya”.
“Oh begitu! Mau liat dong”. Pinta mama.
“Nanti deh aku rekam tante”.
“Ok deh! Tante tunggu”.
NB: cerita ini hanya fiktif belaka
(terima kritik dan saran yang membangun)
*terima kasih sudah membaca*