“Kita mau ke mana,Dik?”. Tanyaku begitu ia memboncengku dengan motor andalannya.
“Ntar juga loe tahu”.
“Ayo,pak Dika! Dari tadi ditungguin”. Sapa seorang wanita begitu kami sampai di sebuah travel.
“Ditungguin kemana,Dik?”. Tanyaku penasaran.
“Ke Dufan”. Jelasnya.
“Ayo bu Sashi juga cepetan”. Ajak wanita itu memasuki mobil bermuatan banyak itu.
“Semuanya sudah menunggu yah?”. Tanya Dika penuh ramah pada orang-orang yang sudah lama menunggu.
“Maaf,yah!”. Ungkap Dika penuh penyesalan. “Tadi saya jemput pacar saya ini. Maaf yah!”.
“Iya ga-pa-pa”. Ungkap seorang lelaki di bangku paling belakang.
“Gak ada pacar gak enak”. Ceplos disampingnya.
“Oke! Berhubung semua sudah kumplit. Saatnya berangkat”. Teriak antusias Dika diikuti teriakkan penumpang lainnya.
“Sepertinya mereka senang sekali,Dik?”. Bisikku padanya.
“Yaiyalah! Mereka kan belum pernah ke Dufan”.
“Tapi, aku biasa ajah”. Ungkapku jujur.
“Loe kan jaga image”.
“Hmm.. enak ajah”.
“Gw mau tidur,Sas! Bangunin aku kalau udah nyampe”. Pintanya begitu mobil sudah melaju.
“Sini biar gak sakit”. Aku meminjamkan bahuku untuk menjadi sandarannya.
Dika hanya tersenyum.
Entah apa yang ada dipikiranku. Aku berbohong pada semua orang untuk memenuhi keinginan Dika ini.
Tapi aku senang bisa jalan-jalan dengan Dika tanpa diganggu siapapun.
“Mau naik apa?”. Tanyanya padaku begitu rombongan sudah berpisah.
“Semuanya”. Teriakku antusias.
“Ayo kita acak-acak dufan ini. Haha!!”. Tawanya girang.
Semua macam permainan kami ikuti. Mulai dari kora-kora, hingga tornado.
Sepanjang hari kami hanya tertawa-tawa dengan riang. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu.
Dan kami pun sudah harus berkumpul lagi untuk perjalanan pulang.
Sepanjang jalan, pikiranku resah tak menentu. Entah mengapa saat kubayangkan hari-hariku tanpa Dika perasaanku jadi sedih.
Aku ingin menghentikan waktu ini, biarlah aku dan Dika seperti ini saja, tanpa ada yang memisahkan.
Tapi apalah daya, waktu jua yang memisahkan begitu mobil ini sudah kembali di kota kami.
Dika pun mengantarku ke rumah. Namun tiba-tiba saja hujan deras membasahi bumi ini. Inikah jawaban dari doaku. Aku bisa berlama-lama dengannya lagi.
Aku bersyukur masih memiliki waktu yang agak lama untuk bersama Dika. Kami berhenti di pinggir halte dekat rumahku.
“Dik!”. Panggilku.
Ia menoleh sambil memegang kedua tangannya kedinginan.
“Terima kasih untuk semuanya”.
“Sama-sama”. Ucapnya menggigil.
Aku langsung memeluknya.
“Kurasa kau kedinginan”.
Dika menyambut pelukanku.
“Bolehkan kita seperti ini?”. Tanyanya padaku.
“Kau amat kedinginan,Dik”.
“Terima kasih”.
Kulonggarkan pelukan ini. “kurasa hujan sudah reda”. Ungkapku.
“Iya!”.
Sebelum Dika memasang helmnya lagi, aku tiba-tiba mencium bibir Dika. Entah apa yang ada dipikiranku, yang pasti aku amat sedih dengan perpisahan ini. Begitu menyakitkan.
Dika terkejut dengan perlakuanku padanya.
“Cinta kamu,Sas”. Tiba-tiba Dika mengucapkan kata-kata yang sudah lama kuharapkan.
Dika membalas ciumanku.
“Maaf sudah membuatmu seperti ini”. Ungkapnya sedih. “Tapi,aku akan menunggu kamu, Sas”.
Aku memeluknya lagi dengan begitu erat. Entah mengapa aku merasa tidak akan bisa memeluknya lagi.
“Aku pulang,yah?”.Pamitku.
“Okey!”. Ia segera memakai helmnya kembali.
“Sampai sini aja,Dik”. Perintahku. “Aku pulang sendiri. Sampai ketemu besok”.
Aku segera berlari kecil tanpa menoleh ke arahnya. Aku takut sekali untuk melihatnya. Kalau aku melihatnya, perasaan kehilangannya akan semakin menjadi.
“Selamat tinggal, Sas!”. Teriaknya.
Aku langsung terdiam begitu mendengar perkataannya. Entah mengapa perkataannya terasa kutukan bagiku.
Aku meloleh kearahnya dan tersenyum padanya. “Sampai ketemu besok”. Tegasku.
Ia tidak menjawab hanya membalas senyumanku.
Entah mengapa senyumannya itu terasa begitu indah dari sebelumnya.
“Hati-Hati di jalan”. Aku pun segera berlari lagi di bawah rintikan sisa air hujan.
Jangan menoleh lagi,Sas. Ungkapku dalam hati.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku semakin kacau. Tetesan air hujan pun sudah bercampur dengan air mataku.
“Aku pulang!”. Sapaku pada penghuni rumah yang terlihat sedang berkumpul di teras rumah.
Plak! Tiba-tiba saja Papa menamparku dengan amat sangat sakit.
Wajahku yang sudah tanpa air mata kini mulai memerah dan air mataku pun terjatuh lagi.
“Masuk ke kamar mu”. Perintah Papa dengan nada amat garang.
“Kenapa,Pah?”. Isakku.
“Cepat ke kamar kam. Sekarang!”. Perintahnya tanpa memandangku.
Jelas-jelas Papa sedang marah besar.
“Aku ke kamar”.
“Semuanya masuk”. Perintah Papa pada Mama dan Nina.
Entah masalah apa yang sebenarnya terjadi, sampai-sampai Papa begitu marahnya padaku.
“Lihat ini!”. Papa melempar beberapa lembar foto ke arahku dan alhasil jatuh di lantai.
Aku memunguti foto-foto itu satu persatu.
Ini aku. Ungkapku dalam hati. Dan Dika.
Bukankah ini kejadian yang tadi. Kenapa begitu cepat sampai ke tangan orangtuaku.
“Dari siapa ini,Pah?”. Tanyaku pada Papa dengan nada panik.
“Tidak perlu tahu”. Ungkap Papa lelah.
“Kamu telah membohongi kami”. Mama ikut berbicara. “Kami sangat kecewa”.
“Ma! , Pa! ini tidak seperti yang kalian lihat”. Bantahku.
“Ini jelas-jelas kamu. Masih mengelak saja”. Papa sudah makin kesal.
Siapa yang telah berbuat setega ini. Ini memang aku. Aku memang benar telah mengecewakan orangtuaku. Ini memang salah. Tapi, siapa begitu tega. Siapa?
Aku hanya terisak diantara orangtuaku dan Nina.
“Jangan contoh yang seperti ini, Nin”. Hina Papa. Nina hanya mengangguk.
Kata-kata Papa begitu menyakitkan.
“Liburan semester ini tidak boleh keluar rumah”. Ungkap Papa dan Mama bersamaan.
Aku tahu ini hukuman yang wajar. Tapi, apa bisa aku bertahan tidak bertemu dengan Dika.
“Angkat teleponnya”. Perintah Papa pada Nina begitu terdengar suara panggilan telepon di ruang tengah.
Nina dengan segera berlari menghampiri pesawat telepon.
“Buat Kak Sas,Pah!”. Teriaknya dari ruang tengah.
“Dari siapa?”. Papa ikutan teriak.
“Kak Vita!”. Teriak Nina lagi.
“Jangan lama-lama”. Ucap Papa singkat sembari meninggalkan kamarku.
Aku segera menghampiri pesawat telepon.
“Nih!”. Ketus Nina kepadaku. Sungguh sudah tidak ada maaf buatku.
“Terima kasih,Nin”. Kubalas dengan senyum. Namun ia hanya tersenyum tipis seolah-olah jijik padaku.
Aku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam melihat tingakah adikku yang mulai membenciku.
“Halo,Vit!”. Sapaku begitu Nina sudah menghilang dari pandanganku.
“Gimana kejutannya? Menarikkan?”. Ungkap suara di seberang yang jelas-jelas bukan suara perempuan.
Aku amat mengenal suara itu.
“Rio!”. Kejutku.
“Iya,sayang! Ini aku”.
“Apa-apaan kamu! Apa sih maunya kamu”. Kesalku.
“Duh! Jangan marah-marah dulu dong”. Ungkapnya tenang.
“Jelaskan padaku. Apa maksud dari semua ini”. Amarahku sudah memuncak.
“Wah! Kayaknya udah marah banget yah!”. Senangnya. “Baguslah!”.
“Kalau kamu marah karena aku udah bohongin kamu. Ya udah bilang aja”. Ketusku. “Gak usah kamu libatkan dengan orangtua saya”.
“Marah!”. Tawanya. “Aku udah muak sama kamu”.
“Kalau kamu mau putus ya putus ajah”. Dia sudah benar-benar membuatku amat kesal.
“Ini ganjaran buatmu karena sudah sering mengecewakanku. Kalaupun aku sudah putus denganmu, aku tidak mau kamu bahagia dengannya”.
“Kamu!”.
“Kenapa? Kesal, yah! Haha…. “.
“Kamu ini benar-benar keterlaluan”.
“Kalau kamu mau balik lagi sama aku. Datanglah ke Bandara jam 7 pagi”. Jelasnya. “Aku masih memberikan kesempatan padamu”.
“Gak akan”. Jawabku tegas.
Aku pun langsung menutup gagang telepon dengan kesal.
Benar-Benar orang ini.
Aku kembali ke kamar. Ku lihat Papa sedang membongkar isi tasku.
“Ini dia”. Ucapnya begitu menemukan handphoneku.
“Buat apa,pah?”. Tanyaku curiga.
“Handphone kamu Papa sita”. Ungkapnya puas. “Sana tidur!”.
Papa , Mama dan Nina sudah amat membenciku. Kata maafpun tidak bisa meredakan kebencian mereka. Karena mereka merasa telah dibohongi olehku. Ya, aku memang telah berbohong tentang kepergianku pagi ini. Tapi kalau soal aku pacaran, aku jelas-jelas tidak pacaran. Itu hanya perjanjianku dengan teman-temannya.
Dibalik selimut yang hangat aku menangisi penyesalanku telah membohongi keluargaku.
Tapi, ada saatnya aku mengingat Dika tangisanku semakin terisak saja. Entah mengapa perasaanku tidak tenang jika mengingat Dika. Aku takut terjadi apa-apa dengannya, apalagi jika Rio berbuat sesuatu pada Dika.
Guyuran hujan yang deras membuat suasana menjadi seakan sepi, hampa dan membuatku mulai tertidur dibaluti tangisan.
NB: cerita ini hanya fiktif belaka
(terima kritik dan saran yang membangun)
*terima kasih sudah membaca*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar