Selasa, 20 Februari 2018

chapter 11

Hari pertama kerja inilah yang sangat menegangkan. Bertemu teman baru dan harus beradaptasi dengan lingkungan kerja. Apalagi masalah Rio. Entah apa aku bisa menghindar darinya terus.
“Oke rekan-rekan! Saya perkenalkan rekan kerja kita yang baru”. Ungkap Pak Sudibyo kepada penghuni lantai 7.
“Perkenalkan nama saya Sashi Hindayani. Saya senang bisa bekerja disini bersama rekan-rekan. Mohon bantuannya”.
“Sashi ini adalah sekertaris kita yang baru”. Jelas Pak Sudibyo lagi.
Terlihat jelas wajah-wajah para wanita menjadi tidak seramah tadi, begitu mendapati penjelasan pak Sudibyo.
“ Mohon bantuannya”. Ungkapku lagi. Dan mereka semua segera kembali pada kerjaannya.
Aku harus berusaha. Semangatku dalam hati.
“Ruangan kamu disebelah sana,Sas”. Tunjuk pak Sudibyo pada ruangan yang tertutup yang berbeda dengan ruangan rekan-rekan disini.
Aku mengikuti pak Sudibyo.
“Saya kenalkan kamu dengan managernya”. Jelas pak Sudibyo yang melihatku agak kebingungan. “Nyantai aja,Sas! Di sini orangnya ramah-ramah kok”.
“Terima kasih,Pak”. Senyumku pada Pak Sudibyo. “Saya mungkin agak gugup”.
“Saya mengerti. Tapi, kegugupan itu dapat kamu hadapi,kan”.
“Iya,pak”.
“Oke! Mari kita masuk ke dalam”. Pak Sudibyo membukakan pintu , memasuki ruangan yang menjadi rungan kerjaku tiga tahun ke depan.
“Pak!”. Sapa Pak Sudibyo kepada seseorang yang sudah duduk di ruangan itu . Sepertinya jabatannya lebih tinggi dari pada Pak Sudibyo.
“Kenalkan sekertaris baru bapak”. Terang Pak Sudibyo.
Aku hanya menunduk, bak anak kecil yang sedang malu-malu.
“Namanya Sashi,Pak”. Jelas Pak Sudibyo lagi memperkenalkanku pada manager di lantai 7 ini.
Manager itu malah mendorong bangkunya kebelakang. Aku jadi tambah panik. Sepertinya manager ini galak bukan main.
Aku pun mulai memberanikan diri.
“Kenalkan pak!”. Aku menyodorkan tangan kepada manager dihadapanku ini.
“Saya Sashi”. Jelasku sembari menaikkan wajahku untuk dapat melihat manager yang baru saja membuat aku dan Pak Sudibyo ini agak ketakutan karena ulahnya.
Ia membalas jabatan tanganku.
Rio!
Aku mencoba menarik jabatanku tapi orang dihadapanku ini malah menggenggam erat-erat.
Ia malah memandangku dalam-dalam.
Aku membuang muka.
Pak Sudibyo hanya kebingungan dengan tingkah kami.
“Senang bisa bekerja sama dengan bapak”. Ungkapku penuh kebohongan dan seolah-olah memandangnya.
“Pak!”. Panggil pak Sudibyo pada Rio.
“Oh! Iya!”. Kejutnya sambil melepas tanganku. “Saya Rio”.
“Bapak tidak apa-apa?”. Tanya Pak Sudibyo begitu melihat raut wajah Rio yang seperti ingin menerkam orang dihadapannya itu.
“Sas! Kamu sudah kenal dengan pak Rio,kah?”.
“Tidak,Pak!”. Bohongku lagi. “Saya baru pertama kalinya bertemu dengan pak Rio”.
“Senang bisa menjadi sekertaris pak Rio”. Senyumku padanya.
“Baguslah! “. Ia memunggungi kami. “Pak Sudibyo! Anda boleh kembali ke tempat kerja Anda”.
“Kalau gitu saya pamit dulu”. Ia pun pergi meninggalkan kami berdua di ruangan itu.
Aku dan Rio hanya berdiam diri. Tanpa berkata apapun. Ia masih memunggungiku.
Aku pun memberanikan diri untuk melangkah mundur ke meja kerja yang sebelumnya sudah diberitahu pak Sudibyo.
“Berani sekali kamu berbuat ini pada saya,Sas”. Begitu ia mengetahui aku sudah duduk di meja kerjaku.
“Maaf,pak! Saya tidak mengerti maksud bapak”.
Ia malah menghela nafas dan tertawa kecil. “Aku ini kamu anggap apa,Sas”.
Raut wajahnya mulai memadam.
Entah mengapa orang yang kukenal dulu ini masih belum berubah saja, masih sering menampakkan wajahnya yang kelabu.
“Maaf,Pak! Saya disini untuk bekerja bukannya ngurusin masalah pribadi”. Ungkapku datar.
“Kerja!”. Tawanya lagi. “Baiklah kalau itu maunya kamu”. Ia pun menyerahkan setumpukkan dokumen-dokumen.
“Salin itu semua dan berikan kepada saya sebelum istirahat”. Ia pun pergi dari ruangan sembari membanting pintu.
“Hah! Gila banget. Selesaikan sebelum istirahat”. Protesku mengikuti gaya bicaranya. “Orang yang lincah sekalipun gak mungkin nyelesaiin sampai istirahat,tau”. Kesalku.
“Sampai jam pulang pun udah hebat banget”. Ungkapku lagi. “Arghhh”.
Sampai jam istirahatpun salinannya baru sampai setengah dari tumpukan dokumen ini.
Kak Sania pun menelponku untuk menagih janjiku untuk mentarktirnya namun harus ku batalkan karena pekerjaanku belum selesai.
Sampai jam pulang kerja pun dokumen yang belum tersalin masih ada lima rangkap lagi.
Dan Rio sejak menyuruhku tak kunjung balik ke ruangan ini.
Pak Sudibyo menenggokku yang tak kunjung pulang begitu melihat rekan-rekan diluar sudah beranjak pulang.
“Tidak pulang,Sas?”. Tanyanya.
“Sebentar lagi,Pak! Kerjaan saya belum selesai”.
“Sedang mengerjakan apa?”.
“Ini,pak! Saya disuruh pak Rio menyalin dokumen-dokumen ini”. Aku menunjukkan tumpukan dokumen-dokumen yang diberikan Rio padaku.
“Bukannya ini sudah di salin oleh sekertaris lama”. Jujur pak Sudibyo. “Filenya ada di ruang data”.
Tubuhku serasa mulai melemas. Sia-sia kerjaku hari ini.
“Mungkin pak Rio lupa”. Belanya. “Coba saya telepon pak Rio dulu”.
Hah! Benar-benar Rio ini. Sepertinya ia memang berniat balas dendam padaku.
“Pak! Ini saya Sudibyo”. Sapanya dibalik telepon. “Dokumen yang bapak suruh kepada Sashi untuk disalin sudah ada file salinannya di ruang data,pak”. Jelasnya. “Oh begitu,pak! Oke! Nanti saya sampaikan,Pak!”.
Telepon pun terputus.
“Mm. Gimana ya,Sas! Saya mewakili pak Rio untuk mohon maaf padamu”.
“Maaf kenapa,pak?”.
“Pak Rio lupa kalau dokumen ini sudah disalin. Mohon maaf,Sas!”.
“Tidak usah minta maaf,pak”. Ungkapku pahit. “Saya tidak apa-apa kok ,Pak. Lagian ini kan bisa jadi pemanasan untuk saya”.
“Kalau gitu. Anda sudah bisa pulang sekarang”.
“Oh! Iya pak! Terima kasih atas bantuannya”. Aku pun segara pulang dengan wajah yang terpaksa untuk tersenyum. “Saya pulang dulu”.



“Oke! Sampai ketemu besok”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar