Selasa, 20 Februari 2018

chapter 12

“Maunya apa sih orang itu”. Ku tendang kaleng kosong begitu ku langkahi jalan setapak menuju rumahku. “Arghhh! Bikin kesel ajah”.
“Kenapa? Gak suka”. Teriak orang dibelakangku.
Aku pun segera menoleh ke belakang.
Orang yang membuat aku muak benar-benar ada dihadapanku sekarang.
“Ngapain kamu disini?”. Aku melangkah menghampirinya. “Oh! Mau mata-matain aku lagi trus lapor deh ke orangtua aku sekalian,biar kamu puas”.
“Ini kan jalan umum”.
“Hah! Jalan umum”. Sinisku. “Iya kamu memang benar. Tapi gak sepatutnya kamu disini”.
“Aku kesini cuma minta penjelasan dari kamu. Bukankah ini sudah diluar jam kantor”.
“Penjelasan?”. Tanyaku penuh kebencian. “Apa lagi yang mau dijelasin”.
“Kenapa kamu berani menghianatiku. Bukan,kah kita saling mencintai. Kamu sendiri yang setuju menjadi pacarku”.
Aku tertawa sebisanya. “Itu lagi”.
“Aku cuma minta penjelasan dari kamu”. Teriaknya. “Sudahkah untuk memberikan alasan”.
“Penjelasan! Baik! aku akan kasih kamu penjelasan yang sejelas-jelasnya”.
Rio menyuruhku masuk ke mobilnya.
Aku hanya menurut saja.
“Coba kamu beri penjelasan”. Perintahnya.
Aku menarik nafas dalam-dalam. “Aku cuma mencintai Dika seorang”. Ungkapku.
“Apa maksud kamu? Jadi selama ini hubungan ini kamu anggap apa?”.
“Aku gak pernah cinta apalagi suka sama kamu. Jelas aku hanya mencintai Dika. Kamu dimataku bukanlah seseorang yang ingin kucintai”.
Rio menamparku.
“Jadi yang mau kamu bilang. Selama ini kamu mempermainkan aku. Hah!!”.
Aku hanya mengangguk.
“Kamu ini manusia atau bukan ,sih?”.
“Aku benar-benar mencintai Dika. Sampai akhirnya Dika meninggalpun aku masih tetap mencintainya”.
“Dika! Dika! Terus saja sebut dia”.
“Kamu!”. Aku menunjuknya penuh kemarahan. “Telah membuat aku tidak bisa bertemu dengannya untuk terakhir kalinya”. Teriakku.
“Karma untukmu”. Ungkapnya datar.
“Gara-gara kamu, aku tidak boleh keluar rumah. Apalagi menemui Dika untuk terakhir kalinya. Kamu tahu gak sih rasanya kayak apa?”. Aku mulai menangis lagi. Setelah sekian lama aku memutuskan untuk tidak akan meneteskan air mata.
“Itu pelajaran buat kamu, karena kamu sudah melukai hatiku”. Rio juga menangisi dirinya.
“Aku tidak pernah berniat untuk melukai hatimu. Ini bukan salahku”. Teriakku padanya. “Ini semua! Tanyakan saja pada teman-temanmu”.
Aku segera beranjak keluar mobilnya. Namun tiba-tiba saja perutku rasanya sakit.
“Kenapa?”. Tanya Rio yang melihatku memegangi perutku.



“Kau Tanya saja pada teman-temanmu”. Aku segera keluar dari mobilnya dan berlari di dalam kegelapan menjauhinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar