“Gw masuk dong! Kasih minum kek!”. Rengek Dika di depan gerbang rumahku.
“Ogah! Udah sono pulang”. Usirku.
“Idih! Jahat banget! Gw udah mau mati kekeringan nih”.
“Sas! Kok gak masuk”. Tiba-tiba mamaku muncul dari belokan gang. “Temennya juga ajak ajah”.
“I-Iya ma!”.
“Ayo masuk”. Mama membuka gerbang pagar dan mempersilahkan Dika memasukkan motornya.
“Seneng loe”. Bisikku pada Dika begitu mama sudah masuk ke rumah duluan.
Ia hanya cengengesan.
“Jangan lama-lama”. Ancamku lagi.
“Oke bos!”.
Kami pun masuk ke rumah. Begitu aku menyuruh Dika duduk di ruang tamu. Mama malah memanggil kami berdua untuk ke meja dapur.
“Sini makan temenin mama”. Pinta mama. “Kebetulan mama juga belum makan siang”.
“Aduh mama! Kok jam segini belum makan, nanti maagnya kambuh loh!”.
“Wah tante! Gara-gara nungguin saya yah”. Ceplos Dika sok akrab.
“Ge-er banget loe!”.Sanggahku.
“udah-udah! Jangan ribut melulu. Kalau kalian berantem, kapan makannya”.
“Hehe.. Iya juga Tan! Kebetulan, cacing saya sudah pada manggil”.
“Peliaraan loe ye”.
“Tuh, kan! Baru aja dikasih tahu udah ribut lagi”. Mama melerai. “Sini diambilin nasinya, nak”. Mama mengambil piring di hadapan Dika. “Segini cukup,kurang”. Mama menaruh satu sendok nasi di atas piring itu. Dika hanya senyum. “Oh! Kurang yah!”. Mama menambahkan satu sendok lagi.
“Jangan ngerampok rumah gw dong,Dik!”. Protesku.
“Gak pa-pa! namanya juga anak cowok. Pasti makannya banyak”. Ledek mama.
Dika hanya cengengesan ajah.
“Ma, aku ganti baju dulu”. Ijinku pada mama.
“Ya udah! Biar adek ini yang nemenin mama makan”.
“Namanya Dika,ma”. Protesku.
“Oh! nak Dika”.
“Dik! Kalau udah kelar makan cepetan pulang yah”. Perintahku sebelum masuk ke kamar.
“Gak usah cepet-cepet pulang,nak. Kan masih panas di luar”. Pinta mama begitu aku sudah masuk kamar.
“Tapi, tan! Nanti Sashy marah lagi”.
“Ga pa-pa! pengen tahu tante kalau dia marah kayak apa”.
“Hah! Tante gak tahu! Emang di rumah gak pernah marah-marah yah”.
“Enggak! Dia gak pernah marah-marah apalagi ke adiknya”.
“Wah! Kejadian langka tuh tante. Di kampus kerjaannya marah-marah melulu ke saya”.
“Oh begitu! Mau liat dong”. Pinta mama.
“Nanti deh aku rekam tante”.
“Ok deh! Tante tunggu”.
NB: cerita ini hanya fiktif belaka
(terima kritik dan saran yang membangun)
*terima kasih sudah membaca*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar