“Bagaimana interviewnya?”. Tanya seniorku, kak Sania begitu aku keluar dari ruangan interview.
“Alhamdulillah. Aku diterima,kak”. Girangku.
Dialah seniorku yang menawariku bekerja disini.
“Oh! Baguslah!”. Senangnya. “Aku dah dag-dig-dug aja”.
“Oh! Jadi meragukan kemampuanku nih”.
“Buka begitu,Sas!”. Sanggahnya. “Soalnya aku juga ngelamar disini dua kali gagal, baru yang ketiganya berhasil”.
“Mungkin aku sedang beruntung”.
“Hehe.. mungkin juga. Tapi, baguslah kamu kerja di sini”.
“Kenapa kak emangnya?”.
“Ya,kan jadi punya temen satu almamater gituh”.
“Dikirain ada apa?”.
“Soalnya,Sas?”. Keluhnya. “Di kantor ini ada manajer yang ganteng abis”.
“Trus!”.
“Ya ampun! Ini tuh udah jadi buruan para jomblowati di gedung ini,Sas”. Kesalnya padaku yang menganggap sepele masalah ini.
“Aku kesini untuk kerja,kak”. Jelasku.
“Trus emangnya gak boleh senang-senang dikit”.
“Apa sih bagusnya manajer itu?”. Kesalku pada kak Sania begitu melihat wajahnya yang seperti ingin memakanku.
“Dia itu lulusan di universitas negri di kota ini. Wah! Itu kan kampus yang diidamkan olehku,Sas!”. Curhatnya. “Lulusannya pasti bagus-bagus”.
“Kampus kita juga bagus kok”.
“Iya sih! Tapi pak Rio tuh berkharisma”. Terangnya lagi.
“Apa?”. Kejutku begitu kak Sania menyebutkan nama yang pernah menjadi bagian dalam hidupku.
“Kenapa sih?”. Celetuknya. “Denger namanya sampai histeris gitu apalagi liat orangnya”.
“Bukan! Bukan begitu kak. Aku Cuma”.
“Cuma apa? Kamu juga jadi tertarik kan sama Pak Rio”.
“Rio?”. Ulangku.
“Iya! Pak Rio. Kenapa emangnya? Ada yang salah?”.
“Gak! Aku Cuma”.
“Nah! Itu Pak Rio”. Kak Sania menunjukkan seseorang yang sedang berjalan tegap penuh kharisma seperti yang dibilang kak Sania, menuju kea rah kita.
Dari kejauhan aku bisa melihat jelas dialah Rio yang dulu pernah ku kenal.
Aku segera mengumpat dibahu kak Sania.
Kak Sania hanya menyunggingkan senyumnya kepada pak Rio yang dimaksudnya itu, walaupun yang orang yang diberi senyumnya tidak membalas dan malah jelas-jelas tidak melihat ke arahnya.
“Kenapa sih malah ngumpet?”. Omel kak Sania begitu Rio sudah tidak terlihat.
“Aku Cuma! Kaget ajah”. Aku menghela nafas dalam-dalam.
“Kenapa? Ganteng yah?”. Ia mulai tersipu-sipu sendiri seolah-olah ia yang dipuji.
“O iya kak! Kalau aku membatalkan kontrak kerja aku harus bayar berapa?”. Tanyaku panik.
“Belum juga benaran masuk kerja udah mau mengundurkan diri”. Protesnya. “ Lima ratus juta”.
“Apa?”.
“Iya segitu! Udah ngapain sih pakai acara ngebatalin. Disini enak kok kerjanya. Orang-orangnya juga asik!”.
“Aku! Aku Cuma nanya aja kok”.
“Ya udah! Kalau gitu saya mau balik ke ruang kerja dulu nih. Ntar diomelin atasan”.
“Oke deh! Makasih ya kak”.
“Sama-sama”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar