Capek banget hari ini. Tapi senang juga, apalagi bisa ngedapetin si beruang ini.
“Akhirnya aku bisa mendapatkan kamu juga”. Teriakku di kamar.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Dan mulai memejamkan mata.
Dan aku mulai bermimpi. Mimpi indah atau mimpi buruk, entahlah. Yang penting ini hanya mimpi.
Terdengar di kejauhan ada yang memanggil-manggil namaku. Suara itu tidak begitu asing di telingaku.
“Kak Sasi!”. Panggil adikku dibalik pintu.
“Kak buka dong!”. Gedornya lagi.
“Kak!”. Teriaknya kesal.
“Ah! Iya!”. Aku baru tersadar dari mimpiku. “Bentar Nin”.
Aku merapihkan rambutku dan wajahku yang agak berminyak.
“Ada apa, Nin?”. Tanyaku agak sempoyongan.
“Itu ada temennya”.
“Apa?”. Teriakku begitu mengetahui maksud Nina membangunkanku.
“Siapa?”. Tanyaku detail.
“Gak tahu! Katanya sih namanya Rio”.
“What?”. Spontan aku mencengkram bahu Nina.
“Apan sih kak? Sakit tahu”. Kesalnya.
“Maaf,nin! Aku agak syok”.
“Pacarnya yah?”. Selidiknya. “Bilangin papa loh”.
“Enak ajah! Siapa lagi yang pacaran”.
Aku mulai panik, amat panik. Apalagi Nina bilang dia udah di ruang tamu dan lagi ngobrol sama papa pula. Oh My God! Mimpi apa semalam.
“Ada apa,pah?”. Tanyaku pada papa yang lagi asik mengobrol.
“Oh! Sini-sini!”. Papa meyuruhku menghampirinya.
“Ini! Nak Rio, katanya kakak tingkat kamu”.
Aku hanya mengangguk.
“Dia katanya mau nganterin buku catatan kamu yang ketinggalan”.
Aku hanya mengangguk lagi.
“Ini bukunya”. Rio meyerahkan sebuah buku yang jelas-jelas memang milikku.
“Tadi ketinggalan di kantin”. Terangnya. “Untung ada alamatnya di dalam buku ini”.
Massa, sih?.
“Dek Rio ini baik sekali loh,Sas. Mana ada jaman sekarang anak muda yang berpikiran seperti dek Rio ini. Kalau anak muda sekarang mah biasanya bodo amat”.
“Iya,pah!”. Anggukku. “Makasih kak Rio”.
“Kalau gitu, saya ijin pulang dulu pak”. Pintanya.
“Oh! Sudah mau pulang. Kalau gitu! Sas, kamu anter sampai jalan”. Perintah papa.
“Bukannya kak Rio bawa motor,pah”.
“Oh! Tidak! Dia jalan kaki kok”. Terang papa. “Ya,kan nak Rio”.
“Iya,pak!”. Rio menyetujui pernyataan papa. “Tapi, kalau Sashi gak mau juga ga-pa-pa,pak. Saya bisa sendiri”.
“Oh! Jangan! Nanti kesasar lagi”. Protes papa. “Sas, kamu mau kan nganterin dek Rio”. Paksa papa.
“Iya,pah!”. Anggukku setuju.
“Permisi,pak”. Pamit Rio.
Aku mengantar Rio dengan diam tanpa berkata apapun.
“Tadi ,buku kamu ketinggalan di kantin”. Rio memulai pembicaraan.
Aku hanya diam.
“Tadi aku ke kelas kamu tapi gak ada orang”. Ungkapnya lagi.
“Tapi katanya ruangannya pindah. Jadi aku cari ruangan kamu, tapi..”. Jelasnya lagi.
“Aku kan udah bilang ke kakak. Jangan pernah ke rumah aku”. Kesalku.
“Kenapa kamu bohong sama aku,Sas”. Sedihnya.
“Aku! Bohong apa?”.
“Kamu bilang mau kuliah. Tapi kamu malah pergi sama si Dika”.
“Aku emang mau kuliah, tapi dosennya gak ada. Dan aku sama Dika cuma jalan-jalan ajah”. Jelasku penuh amarah. “Dan aku bohong dimananya? Apa karena aku jalan sama Dika. Aku kan udah bilang sama kakak, aku dan Dika itu cuma teman”.
Plak. Rio menamparku. Tamparannya tidak begitu sakit tapi amat menyakitkan hatiku.
“Kalau hanya teman, kenapa kamu mencium dia”.
Aku kaget mendengar perkataan Rio. Kenapa dia tahu. Aku benar-benar binggung dengan semua ini. Serasa akulah biang keladinya. Akulah yang menjadi penjahatnya.
“Maaf!”. Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tidak berani menatap matanya, yang ku yakin penuh dengan amarah.
Putuskanlah aku. Bisikku dalam hati.
“Kurasa kamu telah dibohongi olehnya”.
“Bohong mengenai apa?”. Tanyaku tanpa memandang matanya.
“Jelas-jelas kalian berdua nitip absen ke Gita. Dan kamu gak tahu sama sekali”.
“Nitip absen?”. Tanyaku penuh ingin tahu.
“Dosennya ada kok! Tapi pindah ruangan. Dan kamu malah nitip absen”.
“Aku! Bukannya!”. Aku mengingat-ingat kejadian 10 jam yang lalu.
Jelas-jelas Dika yang bilang dosennya gak ada.
Ya ampun! Dika! Dasar tuh anak! Bolos ngajak-ngajak.
“Maaf,kak!”. Aku memeluk Rio. “Maaf, aku sudah bohong”.
Ayo bilang aja putus. Setan di hatiku mulai berteriak-teriak .
Ayo dong Rio bilang putus.
Rio malah memelukku balik. Dan mencium keningku.
Kenapa jadi begini, sih!
“Aku mohon kamu jangan main lagi sama Dika. Aku takut kamu malah terpengaruh yang enggak-enggak”.
“Dika! “. Kenapa Dika sih! .
“Pipi ini masih sakit,kah?” . Tanyanya sambil mengelus-ngelus pipiku.
Aku hanya mengangguk.
Ia mencium pipiku yang terkena tamparannya tadi. Dan hendak mencium bibirku. Dan aku menghindarinya.
“Rio!”. Itulah panggilanku padanya kalau aku sudah marah padanya.
“Aku tidak akan berbuat itu, Sas! Asal kamu berjanji mau meninggalkan Dika”.
Aku hanya mengangguk.
Rio memelukku lagi. Dan aku berusaha melepaskan pelukkannya.
“Aku gak mau orang rumah tahu status kita. Kamu pulanglah”. Pintaku.
“Oke! Aku pulang”. Ia menghampiri motor yang terparkir di depan minimart.
Oh! Jadi ini emang strategi dia mengajakku keluar rumah.
Hah! Bagaimana ini. Aku-aku sudah terlanjur janji sama dia. Oh No!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar