Selasa, 20 Februari 2018

chapter 9

Entah sudah berapa lama aku tertidur, kepalaku mulai terasa berat.
Aku memegangi kepalaku terasa empuk, ternyata ada kain kecil yang baru diganti oleh adikku.
“Jam berapa,Nin?”. Tanyaku begitu tersadar ia ada dihadapanku.
“Mau kemana emangnya?”. Tanyanya balik.
“Nanya doang”. Balasku ketus.
Entah mengapa baru bangun bawaannya bĂȘte.
“Makan dulu buburnya,baru kakak pergi ke pemakaman. Kakak udah tidur sekitar 20 jam”. Jawabnya.
“Pemakaman?”. Tanyaku panik. “Siapa yang meninggal,Nin”.
“Yang pasti bukan keluarga kita”.
Perasaanku makin tidak tenang. Aku segera beranjak bangun, tapi kepalaku malah tambah pusing.
“Aku bilang kan makan dulu,kak”. Kesalnya. “Nanti Papa yang mengantar”.
Aku segera menghabiskan bubur dihadapanku. Dan bergegas ke kamar mandi.
Nina langsung menghadangku.
“Apa sih, Nin? Kakak lagi buru-buru”.
“Sabar dong,kak! Air panasnya juga belum dimasak”.
“Ngapain sih pakai air panas segala”. Kesalku.
Dari tadi bawaannya emosi melulu nih.
“Gak nyadar yah! Suhu tubuh kakak tuh 39° “. Terangnya. “Mandinya pakai air hangat biar enakan”.
Aku baru menyadarinya begitu menyentuh leherku sendiri.
“Makannya kalau hujan tuh pakai payung,dong”.
“Makasih,dek”. Senyumku padanya.
“Kayaknya air panasnya udah jadi”. Ungkapnya tanpa membalas senyumanku.
Aku pun segera beranjak mandi begitu Nina sudah mencampurkan air panas dengan air di dalam bak sehingga airnya menjadi hangat.
Papa sudah menungguku di depan teras.
“Siapa yang meninggal,Pa?”. Tanyaku penasaran begitu Papa menstarter motor bebeknya.
“Teman kamu”. Jawab Papa singkat seolah-olah enggan untuk ditanya lagi.
Teman! Teman yang mana? Kesalku dalam hati. Kenapa sih gak kasih tahu namanya sekalian. Jawabnya kok setengah-setengah, malah bikin orang jadi penasaran ajah.
“Pemakamannya udah sepi”. Terang Papa padaku.
“Teman aku yang mana,Pa?”. Tanyaku mulai kesal.
“Papa juga tidak tahu. Cuma dikasih tahu lewat sms di hape kamu”.
“Mana hape aku”. Tanyaku pada papa dengan nada tinggi.
“I-ini”. Papa mengeluarkan handphoneku dengan perasaan takut.
“Kalau Papa terus terang dari awal, kita gak akan tersesat kayak gini”. Protesku.
Begitu ku buka folder inbox, terdapat 10 pesan masuk. Salah satunya dari Rio.
Begitu melihat namanya di layar handphone, aku segera menghapus tanpa membacanya.
Kulihat lagi pesan masuk yang lain. Paling banyak dari Dika. Tapi entah mengapa terkesan di pesannya bukan dari dia, melainkan keluarganya.
Aku baca dengan seksama satu persatu pesannya tertanda dibawahnya ibunda Dika.
Tubuhku langsung melemas begitu membaca pesan terbarunya.
Papa ikutan panik begitu melihatku hampir roboh.
“Kamu tidak apa-apa,kan Sas!”.
Aku hanya menangis dan berteriak dihadapan Papa yang tambah panik.
“Antar aku ke rumah Dika,Pah”. Pintaku pada Papa.
Papa langsung menuruti perintahku tanpa bertanya apapun.
Aku berlari memasuki rumah Dika yang sudah bertenda kelabu di depan rumahnya. Aku mendapati ibunya Dika sedang terisak di samping anak perempuannya yang paling tua.
“Dika mana,tante?”. Tanyaku panik begitu tidak melihat sesosok tubuh yang dibalut kain kafan.
“Sudah dikuburkan”. Jawab kakak tertuanya Dika.
Aku hanya bisa menangis terisak beradu dengan tangisan ibunya Dika.
Papa menghampiriku dan menyuruhku pulang.
“Aku mau ke makamnya dulu,Pah”. Mohonku.
“Oh! Baiklah!”.
Papa pun segera mengantarku setelah menanyakan tempat pemakamannya pada keluarga Dika.
Berat langkahku melangkahkan kaki begitu sampai di tempat pemakaman.
Aku hanya bisa menangis dan menangis.
Papa merasa iba melihatku yang sejak tadi hanya menangis. Dan ia lebih memilih untuk diam.
Di depan kuburannya aku menangis tambah kencang. Papa hanya melihatku dari kejauhan.
Aku memang seolah-olah menjadi orang yang tidak waras. Menangis dan berteriak.
“Udah! Jangan ditangisi lagi”. Begitu mendapati ku yang tak kunjung berhenti menangis.
“Kita pulang”. Papa menarikku menjauhi kuburan Dika.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena tubuhku seluruhnya terasa tanpa nyawa.
Tidak ada suara-suara penasaran adikku begitu aku dan papa sampai dirumah.
Ia hanya menutup diri dan menjauh dari kehadiranku.
Entah mengapa aku merasa asing dirumahku sendiri.
Apalagi begitu papa mendapati tugas diluar kota sehingga kami sekeluarga harus pindah tempat tinggal dan aku pun harus pindah kuliah. Suasana kota barupun harus kujalani.
Dua tahun berlalu dikota baru ini, suasana hati kami semua sudah membaik. Apalagi aku dan adikku sudah tidak ada perseteruan seperti di tempat tinggal kami yang lama. Aku pun sudah bisa menyelesaikan kuliahku di suatu Perguruan tinggi swasta yang terdekat dari rumah.
Perasaan senang bercampur sedih membendung di dalam dadaku. Karena begitu lulus aku mendapat tawaran kerja dari suatu instansi swasta di daerah tempat tinggalku dulu. Tempat yang benar-benar inginku hilangkan dari ingatan. Namun entah mengapa didalam lubuk hatiku tertanam kerinduan dengan kota itu.
Papa dan Mama pun memberikan ijin dengan syarat harus tinggal di rumah kami yang dulu. Aku pun menyetujuinya.
“Nina mau juga dong SMA disana,pah”. Rengek Nina begitu mengetahui kepergianku.
“Kenapa sih mau ngikut ajah”. Protesku.
“Kalau nilai UAN kamu 10 semua. Mungkin bisa papa pertimbangkan”.
“Asik!”. Girang Nina. “Kalau soal nilai gak masalah”.
“Kita lihat aja hasilnya bulan depan”.Tantangku.
Buat Nina nilai tidak jadi masalah. Karena ia jelas-jelas siswa terpandai di sekolahnya.



Bangga juga sih, tapi kadang-kadang sebal. Karena aku gak bisa sepintar dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar